Ibadah haji adalah tidak benar satu rukun Islam. Sebagai bentuk ibadah, tata langkah pelaksanaan haji perlu cocok bersama dengan perintah Allah dan dilakukan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Shollallaahu ‘Alaihi wa Salam. Jika prosesnya tidak dilakukan bersama dengan benar dan tidak benar satu dari rukunnya terabaikan, maka ibadah hajinya dianggap tidak sah.

Sebelum mempelajari berkenaan rukun haji, calon jemaah sebaiknya tahu lebih-lebih dahulu berkenaan hukum dan syarat haji. Hukum haji adalah fardu ain, yakni perlu sekali seumur hidup bagi setiap muslim yang mampu. Kewajiban ini sudah disebutkan di didalam Alquran, surat Ali Imron, ayat 97 dan diperkuat bersama dengan {beberapa|sebagian|lebih dari satu} hadis dari Rasulullah yang sahih, serta ijmak para ulama.
Adapun syarat perlu bagi seseorang untuk berhaji terdiri dari 5 perkara, yakni beragama Islam, berakal, balig, merdeka (bukan budak), dan mampu. Jika tidak benar satu syarat selanjutnya tidak terpenuhi, maka seseorang tidak dikenai kewajiban untuk berhaji. Tidak ada perselisihan dari para ulama berkenaan perihal ini.
Pengertian sanggup yang dimaksud didalam syarat perlu haji adalah mempunyai bekal yang cukup, kendaraan yang memadai, jalan tempuh yang aman, serta suasana fisik yang sehat sehingga sanggup jalankan perjalanan dan ibadah di Tanah Suci. Sedangkan bekal yang cukup artinya, tak hanya cukup membiayai keberangkatan & cost hidup jemaah selama di Tanah Suci, juga cukup untuk menafkahi keluarga yang ditinggalkan tanpa perlu berutang.

Selain syarat wajib, ada juga yang disebut bersama dengan syarat sah haji, yakni beragama Islam, berakal (tidak gila), miqot zamani atau dilakukan di waktu tertentu, yakni pada bulan hajidan bukan di waktu lainnya, serta miqot makani atau dilakukan di daerah yang sudah ditetapkan. Jika keempat syarat-syarat selanjutnya tidak dipenuhi, maka hajinya tidak sah.
Hal penting lainnya yang juga perlu dimengerti oleh setiap muslim yang bakal berhaji adalah manasik/tata langkah haji. Manasik haji merupakan simulasi ibadah haji yang dilakukan cocok tata langkah aslinya. Manasih perlu dilakukan sehingga setiap calon jemaah lebih tahu dan sanggup tahu tahapan ibadah secara lebih baik badal haji .

Selanjutnya, kita bakal mengupas apa saja yang juga tata langkah pelaksanaan haji (rukun haji). Setiap amalan ibadah yang juga rukun haji perlu dilaksanakan. Jika tidak benar satu dari rukun selanjutnya diabaikan, maka ibadah haji menjadi tidak sah. Adapun yang juga rukun haji, yang dicontohkan Rasulullah, adalah ihram, tawaf, sai, dan wukuf di Arafah travel haji umrah .

Rukun pertama: Ihram
Ihram adalah tekad untuk merasa beribadah haji. Niat adalah perkara batin, maka cukup dilakukan di hati saja dan tidak perlu diucapkan. Saat berihram, jemaah perlu mengawali dari miqot, tidak kenakan busana yang dijahit, hendaknya ber-talbiyah, dan tidak diperbolehkan kenakan baju, jubah, mantel, imamah, penutup kepala, dan khuf atau sepatu. Jemaah wanita juga tidak diperbolehkan kenakan penutup wajah dan sarung tangan.

Adapun, sunah waktu berihram adalah mandi, kenakan wewangian di badan, memotong bulu kemaluan dan ketiak, memendekkan kumis, memotong kuku, kenakan sarung dan kain atasan yang berwarna putih bersih, serta kenakan sandal. Niat ihram dilakukan setelah salat, setelahnya jemaah haji disarankan untuk memperbanyak talbiyah. Jemaah wanita boleh kenakan busana apa saja, tidak ada keputusan perlu warna tertentu, asalkan tidak menyerupai busana laki-laki dan perlu menutup aurat.

Rukun kedua: Tawaf
Urutan tata langkah ibadah haji yang ke dua adalah tawaf, yakni mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali. Dalil yang memperlihatkan wajibnya tawaf ada di didalam Alquran, surat Al-Hajj, ayat 29. Saat jalankan tawaf, jemaah haji perlu untuk punya niat tawaf, suci dari hadas, menutup aurat seperti waktu sedang salat, berada di sebelah kanan Kakbah, serta memulainya dari Hajar Aswad dan mengerakhirinya di Hajar Aswad pula.

Rukun ketiga: Sai
Sai dilakukan bersama dengan berjalan atau berlari-lari kecil di pada bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Rukun sai dilakukan setelah jemaah jalankan tawaf dan perlu dilakukan berurutan. Artinya tidak boleh dilakukan sebelum akan tawaf atau tidak boleh diselingi ibadah apa pun setelahnya.
Rukun keempat: Wukuf di Arafah
Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling penting. Para ulama setuju bahwa barang siapa luput jalankan wukuf di Arafah, maka ia perlu jalankan haji pengganti (di th. yang lain). Pengertian wukuf adalah jemaah perlu berada di daerah mana saja di Arafah dan didalam suasana apa saja, baik didalam suasana suci maupun tidak (haid, nifas, atau junub).

Waktu wukuf di Arafah di awali waktu matahari tergelincir pada tanggal 9 Dzulhijjah, sampai terbit fajar (masuk waktu subuh) pada tanggal 10 Dzulhijjah. Bagi jemaah yang wukuf di luar waktu tersebut, maka hajinya tidak sah. Ada {beberapa|sebagian|lebih dari satu} kebiasaan yang dilakukan oleh {beberapa|sebagian|lebih dari satu} jemaah, yakni wukuf di Jabal Rahmah. Mereka meyakini bahwa daerah selanjutnya adalah daerah terbaik untuk wukuf. Hal ini keliru, karena tidak dulu diajarkan oleh Rasulullah.

Selain keempat kronologis tata langkah ibadah haji tersebut, terkandung {beberapa|sebagian|lebih dari satu} amalan perlu didalam ibadah haji. Perbedaan rukun dan perlu haji terdapat pada sah atau tidaknya ibadah haji. Jika jemaah meninggalkan tidak benar satu atau {beberapa|sebagian|lebih dari satu} amalan perlu haji maka hajinya selalu sah, tapi ada kewajiban membayar denda (dam). Amalan perlu haji pada lain: