Hasil gambar untuk lobster mutiara adalah

Harga benih lobster mutiara kala ini meraih Rp20.000/ekor, tapi benih lobster pasir Rp17.000/ekor.

Berbeda bersama dengan situasi terhadap 2007, harganya hanya Rp3.000 sampai Rp5.000/ekor ukuran panjang tiga centimeter.

Satu orang nelayan paling sedikit bisa menjajakan 20 benih lobster hasil tangkapannya di dalam satu hari.

Jika dikalikan Rp17.000 maka uang yang bisa dikantongi di dalam satu hari sedikitnya Rp340.000 jika yang dijual benih lobster pasir.

Habitat
Hampir selama hidupnya udang karang (pukennus bawalnus sp) menentukan tempat-tempat yang berbatu karang, di balik batu karang yang hidup maupun batu karang yang mati, terhadap pasir berbatu karang halu, di selama pantai dan teluk-teluk. Karena itulah organisme ini dikenal bersama dengan nama udang karang atau lobster. Udang karang (Panulirus sp) tidak cukup menyukai tempat-tempat yang sifatnya terbuka dan terutama arus yang kuat. Tempat-tempat yang disukai adalah perairan yang terlindung. Berdasarkan pengalaman nelayan, udang karang banyak terdapat di tempat-tempat yang memiliki kedalaman perairan 10 – 15 m. Kebiasaan hidupnyamerangkak di basic laut berkarang, di pada karang-karang, di gua-gua karang, dan di pada bunga karang. Berdasarkan kebiasaannya merangkak, maka udang karang bisa dikatakan tidak pintar berenang, walau memiliki kaki renang (Subani, 1978). Udang karang termasuk hewan nokturnal yang aktif terhadap malam hari muncul meninggalkan sarangnya untuk melacak makan dan pasif di siang hari. Hewan nokturnal memiliki memiliki kegiatan yang tinggi terhadap permulaan menjelang malam dan berhenti beraktivitas bersama dengan tiba-tiba dikala matahari terbit (Cobb and Phillips, 1980). Udang karang (Panulirus sp) mengonsumsi moluska dan echinodermata sebgai makanan yang paling digemarinya, tidak cuman ikan dan protein hewan lainnya, terutama yang mempunyai kandungan lemak, serta style algae (Subani, 1978). Pada awalannya diperkirakan bahwa udang karang adalah scavenger, hal ini gara-gara lebih banyak dari udang karang memakana umpan yang terpasang terhadap perangkap. Tetapi setelah dikerjakan anggapan mengisi lambing dan pengamatan di laboratorium, ternyata pendapat tersebut tidak benar. Makanan dari udang karang adalah hewan yang masih hidup atau baru saja dibunuhnya, dan lobster memadai selektif di dalam menentukan makanannya (Kanciruk, 1980). Menurut Subani, 1984 in Utami 1999, lobster bisa digolongkan sebagai binatang yang mengasuh dan pelihara keturunannya walau sifatnya hanya sementara. Lobster betina yang tengah bertelur melindungi telurnya bersama dengan langkah menempatkan atau menempelkan butir-butir telurnya di bagian bawah badan (abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas jadi larva udang. Menjelang akhir periode pengeluaran telur dan setelah dibuahi, lobster akan bergerak jauhi pantai dan menuju ke perairan karang yang lebih di dalam untuk penetasan Nontji (1993) memperlihatkan bahwa, kuantitas telur yang dihasilkan tiap-tiap ekor betina lobster bisa meraih lebih dari 400.000 butir. Telur-trlur tersebut akan menetas dan berubah jadi larva pelagis. Selanjutnya dikatakan pula bahwa, udang karang (lobster) mempunyai daur hidup yang kompleks. Telur yang sudah dibuahi menetas jadi larva bersama dengan sebagian tingkatan (stadium). Larva lobster memiliki bentuk yang amat berbeda dari yang dewasa. Larva terhadap stadium filosoma misalnya, mempunyai bentuk yang pipih layaknya daun agar mudah terbawa arus. Semenjak telur menetas jadi larva sampai meraih tingkat dewasa dan pada akhirnya mati, maka selama pertumbuhannya, lobster selalu mengalami pergantian kilit (moulting). Pergantian kulit tersebut lebih sering berjalan terhadap stadia larva. (Subani, 1984 in Utami, 1999) Secara umum dikenal ada tiga tahapan stadia larva, yakni “naupliosoma”, ”filosoma”, dan “puerulus”. Perubahan dari stadia satu ke stadia selanjutnya selalu berjalan pergantian kulit yang diikuti perubahan-perubahan bentuk (metamorphose) yang muncul bersama dengan ada modifikasi-modifikasi terutama terhadap alat geraknya. Pada stadia filosoma yakni bagian pergantian kulit yang terakhir, berjalan stadia baru yang bentuknya sudah serupa lobster dewasa walau kulitnya belum mengeras atau belum mempunyai kandungan zat kapur. Pertumbuhan selanjutnya setelah mengalami pergantian kulit lagi, terbentuklah lobster muda yang kulitnya sudah mengeras gara-gara diperkuat bersama dengan zat kapur. Bentuk dan sifatnya sudah serupa lobster dewasa (induknya) atau disebut sebagai juvenile. Lama hidup sebagai stadia larva untuk lobster berbeda-beda untuk tiap-tiap jenisnya. Lobster yang hidup di perairan tropis, prosesnya lebvih cepat dibanding bersama dengan yang hidup di daerah sub-tropis. Waktu yang dibutuhkan untuk meraih stadia dewasa untuk lobster torpis pada 3 sampai 7 bulan (Subani, 1984 in Utami, 1999)